Mitos: Sebuah Legenda Kehilangan
Dalam kisah-kisah lama, Atlantis adalah benua yang ditelan lautan — penguasa seni yang melampaui zamannya, lenyap dalam satu malam. Namanya milik mitos, tak pernah milik tawarikh.
Dalam Cinder & Crowns, Atlantis bukan lagi sekadar kisah. Ia adalah tanah di bawah kakimu. Skenario Musim 0 menempatkan ceritanya di benua Atlantis yang berkeping: barisan pegunungan membaginya menjadi empat mark, masing-masing terbelah menjadi dua distrik, tempat negara-negara kota dari kekuatan-kekuatan lama dahulu berdiri.
Atlantis dalam mitos tenggelam di bawah gelombang; Atlantis dalam permainan berkeping di atas tanah kering. Dunia lama tidak lenyap. Ia berkeping-keping.
Suaka Terakhir Setelah Zaman Keemasan
Pulau awal menambatkan Atlantis dalam waktu. Setelah Zaman Keemasan tiba dan ketertiban runtuh, satu tempat tetap bertahan: "suaka terakhir Atlantis yang masih asri — sebuah pulau karang yang menghadap tanah yang hilang."
Zaman Keemasan telah berakhir. Keruntuhan telah terjadi. Kau tiba dalam cahaya bara yang menyusul, ketika Kekaisaran Lama telah runtuh dan tak ada kekaisaran baru yang bangkit menggantikannya.
Pulau karang itu memadukan arsitektur Eropa dan Romawi kuno, bermandi warna emas dan hijau kekuningan. Para tuan terbuang dari segala penjuru berkumpul di sini, lalu berangkat menempuh perjalanan melintasi benua yang berkeping. Di sinilah setiap Tuan bermula: berdiri di sudut aman terakhir Atlantis, memandang ke arah reruntuhan benua yang berkeping.
Seni yang Hilang, Urat yang Terkubur
Seni Atlantis yang hilang tidak tertulis dalam kitab-kitab mantra. Ia tersimpan di bawah batuan dasar.
Di bawah seluruh benua mengalir jaringan luas urat-urat emas — sebuah logam yang oleh para leluhur disebut Emas Abadi. Tidak seperti emas biasa, ia tak pernah mendingin dan tak pernah terlelap. Ia terus menyala: percikan yang tak mampu dipadamkan oleh keruntuhan. Siapa pun yang menguasai urat-urat itu dapat menggerakkan sebuah kekaisaran baru. Seni Atlantis yang hilang bukanlah mantra atau rajah, melainkan logam terkubur yang masih menyala.
Dari segi bentuk, Atlantis mengambil inspirasi dari Babilonia kuno — cincin-cincin sepusat, kota-kota yang ditata di sepanjang poros tengah yang ketat. Kota asal setiap pemain mengenakan gaya Atlantis secara baku; gaya Asia Timur, Eropa, dan Timur Tengah terbuka pada VIP tingkat 6, 10, dan 14 secara berurutan. Ini adalah pilihan desain yang senyap: setiap Tuan bermula di atas reruntuhan Atlantis.
Air pun tetap membekas. Dalam rancangan pasukan, serangan seorang penombak menderu "bagai arus deras di dasar laut." Kota yang tenggelam dalam mitos tak pernah benar-benar pergi. Ia tenggelam ke dalam jalinan permainan ini.
Pertanyaan tentang Kota Emas
Catatan-catatan tak pernah menyatakan secara tegas bahwa Kota Emas berdiri di Atlantis. Namun bukti-buktinya condong ke satu arah:
- Benua Kota Emas dikatakan dialiri tak terhitung urat emas di bawah tanah.
- Di bawah Atlantis terdapat persis hal itu — urat-urat Emas Abadi.
- Pada Musim 0, para pemain berangkat dari pulau karang Atlantis dalam ekspedisi mencari wilayah baru.
- Para penjelajah mengaku telah menemukan reruntuhan di pesisir-pesisir yang jauh, terukir dengan petunjuk menuju Kota Emas.
Tak ada yang merekatkan keduanya secara pasti. Namun gravitasi naratifnya jelas: setelah Atlantis berkeping, Kota Emas menjadi nama bagi inti hatinya yang hilang. Ekspedisi setiap Tuan untuk menemukannya, pada dasarnya, adalah sebuah penggalian — arkeologi di ibu kota lama Atlantis.
