Back to Chronicles
Elegi bagi Kekaisaran Lama
世界观Game Guide

Elegi bagi Kekaisaran Lama

Setelah Kekaisaran Lama runtuh, sebuah kekaisaran baru menanti untuk dibangun.

I. Zaman Kelimpahan

Sebelum kisah ini benar-benar bermula, ada sebuah era yang kelak dinamai oleh generasi-generasi berikutnya sebagai Zaman Kelimpahan.

Setiap kerajaan dan wilayah membangun kekayaannya di atas teritori, lembaga, jaringan dagang, kekuatan militer, dan penumpukan budaya yang perlahan. Perbendaharaan para raja, jalan-jalan dagang kekaisaran, ilmu para cendekiawan, dan kejayaan para pahlawan — keempat pilar inilah yang bersama-sama menopang kekayaan bangsa-bangsa.

Itulah zaman ketika ketertiban masih dapat terlihat. Jalur-jalur dagang menjalin jaringnya melintasi gunung dan laut. Kerajaan-kerajaan menjaga perbatasan mereka. Para cendekiawan mengajar di negara-negara kota, dan para panglima legendaris merebut kejayaan bagi panji-panji mereka di medan perang.

II. Retak di Balik Ketenangan

Namun kestabilan itu hanyalah permukaan belaka.

Setelah perang yang panjang, kerajaan-kerajaan dan negara-negara kota mencapai keseimbangan yang gelisah. Perdagangan berjalan terpincang-pincang, dan warisan Kekaisaran Lama masih menopang perekonomian dunia. Namun retakan mulai terbuka di segala sisi:

Sumber daya mengering — urat-urat kaya dan ladang-ladang subur perlahan menjadi tandus.

Perdagangan melayu — jalan-jalan tak lagi aman, dan jalur lautan menyusut dari tahun ke tahun.

Kekayaan berpindah — tak lagi berkumpul di pusat-pusat lama, melainkan merembes diam-diam menuju yang tak dikenal.

Ketertiban mengendur — perjanjian-perjanjian lama mengoyak, dan janji-janji antarkerajaan mulai ingkar.

Tak seorang pun dapat menyebut tahun saat pergeseran itu bermula. Namun di setiap kota, orang-orang merasakan hal yang sama: ketertiban hari ini mungkin takkan bertahan hingga generasi berikutnya.

III. Keruntuhan yang Senyap

Ketika keruntuhan itu datang, ia datang nyaris dengan damai.

Kekaisaran runtuh, kota-kota mengosong, jaring perdagangan putus. Tak ada satu pertempuran penentu, tak ada perintah terakhir seorang tiran — hanya tak terhitung pengalahan kecil, kemunduran, dan tindakan melupakan, yang mengikis kebesaran lama hingga aus, helai demi helai.

Pasukan-pasukan tetap ada, tetapi tak lagi tunduk pada satu pusat. Kafilah-kafilah masih berangkat, tetapi makin sedikit yang sampai ke tujuan. Panji-panji Kekaisaran Lama tak pernah diturunkan secara resmi. Pada suatu pagi, tak seorang pun ingat untuk mengibarkannya.

IV. Warisan

Keruntuhan itu tidak meninggalkan kehampaan belaka.

Warisan dunia lama berserakan di seluruh negeri: reruntuhan kota-kota kuno, benteng-benteng yang kaya sumber daya strategis, jalur-jalur dagang yang terlupakan, urat-urat bijih yang terkubur dalam — kekayaan yang dahulu milik kekaisaran, menanti penguasa baru untuk mengumpulkannya kembali.

Para cendekiawan kembali berangkat untuk mengkaji reruntuhan itu. Para penjelajah mengaku telah menemukan sisa-sisa kuno di benua-benua yang jauh. Tentara bayaran Bandit menjarah apa yang tersisa di tengah ketertiban yang hancur, dan Pemberontak, yang memisahkan diri dari pasukan kerajaan-kerajaan yang runtuh, menguasai celah-celah gunung dan belantara.

Setelah Kekaisaran Lama runtuh, sebuah kekaisaran baru menanti untuk dibangun. Penguasa masa depannya belum disebut namanya — tetapi sudah ada seseorang yang berjalan menuju takhta itu.

This guide is for Cinder & Crowns — a free-to-play mobile 4X strategy game of alliance warfare and fairer competition, where coordination matters more than spending.

Discover the game
Back to Chronicles