Sebuah Nama yang Menampung Segalanya
Kota Emas sejak awal tak pernah menjadi sebuah tempat. Ia bermula sebagai sebuah peleburan — satu nama yang ke dalamnya orang-orang menghimpun setiap kisah kekayaan yang berserakan.
Untuk menggambarkan pusat tempat kekayaan zaman-zaman lama pernah berkumpul, dunia perlahan membentuk satu lambang tunggal: Kota Emas. Dalam legenda, ia adalah tempat kekayaan, kekuasaan, dan kemuliaan berkumpul — mungkin sebuah kota nyata, mungkin hanya metafora yang ditinggalkan sejarah.
Maka ia mengemban identitas ganda: sebuah negara-kota di suatu tempat pada peta, atau singkatan bagi kekayaan seluruh era. Namun demikian, catatan dan reruntuhan tertua terus menunjuk, dengan keras kepala, ke tempat yang sama. Sebuah nama yang disebut sesering ini menyiratkan satu hal di atas segalanya — ia tak pernah ditemukan.
Kekayaan di Bawah Bebatuan
Separuh legendanya milik puisi. Separuh nyatanya terletak di bawah lapisan tanah. Di bawah seluruh benua membentang jaringan luas urat-urat emas, dan ini bukan endapan biasa. Para leluhur punya nama bagi logam ini: Emas Bara Abadi.
Untuk pertama kalinya, emas mengemban identitas yang melampaui logam mulia. Ia tak pernah ditempa menjadi koin — ia menjaga Kekaisaran Lama tetap berjalan. Siapa pun yang menguasai urat-urat itu menguasai kehangatan sisa dari kekuasaan tatanan lama. Satu catatan pinggir dalam arsip berbunyi nyaris seperti janji bagi para Penguasa masa depan: urat-urat itu menanti untuk ditambang.
Mengapa Seluruh Dunia Mencari
Ketika Kekaisaran Lama runtuh, dunia tergelincir ke dalam zaman yang tampak stabil padahal diam-diam membusuk. Tepat pada saat itu, sebuah desas-desus mulai beredar: para penjelajah mengaku telah menemukan reruntuhan kuno di benua jauh, reruntuhan yang mencatat petunjuk bahwa Kota Emas mungkin benar-benar ada. Kabar itu menyebar cepat, dan setiap bangsa menarik kesimpulan yang sama — kekayaan dunia lama hanyalah sebagian dari warisan. Pusat sejatinya masih tersembunyi di negeri-negeri yang tak dikenal.
Perhatikan apa yang menggerakkan penemuan kembali ini. Bukan pasukan, melainkan para penjelajah dan para cendekiawan. Kota Emas bukanlah sasaran untuk diserbu; ia harus terlebih dahulu dibaca. Kekayaan kekaisaran berserakan ke seluruh dunia, menanti penguasa baru untuk menghimpunnya kembali.
Apa yang Sebenarnya Ia Tampung
Naskah-naskah lama mendefinisikan kekayaan suatu era jauh lebih luas daripada sekadar emas:
Perbendaharaan kerajaan, jalur dagang kekaisaran, pengetahuan para cendekiawan, dan kemuliaan para pahlawan — bersama-sama semua itu membentuk kekayaan suatu zaman.
Kota Emas tak pernah sekadar lemari besi berisi emas. Yang ia tampung adalah bukti lengkap tentang bagaimana suatu zaman pernah bekerja.
Maka ketika kau berangkat sebagai seorang Penguasa, kau tidak sedang memburu harta. Kau sedang memburu bara terakhir dunia lama, yang menanti untuk dinyalakan kembali. Siapa pun yang menemukan kota itu mungkin tak pernah mengenakan mahkotanya — namun pencarian itu sendiri adalah satu-satunya jalan yang ditinggalkan era ini bagi siapa pun yang ingin berkuasa kembali.
